Kripik Tempe “Kirana” Cikadu mendapat acungan 2 jempol oleh Ibu Bupati Pemalang.

Jum’at (9/2) Pandu dan Gojali, Mahasiswa Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) Purwokerto yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cikadu, didampingi oleh Bagus Tantri, Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Cikadu, mengadakan kunjungan bersama ke tempat produsen kripik tempe di Cikadu.  Keripik tempe yang diberi label KIRANA oleh pemiliknya, Diyatno, diproduksi dirumahnya yang terletak di RT 08/02 Desa Cikadu.

Diyatno menyambut baik kunjungan tersebut. Dalam obrolan ringan yang berlangsung, Diyatno menuturkan bahwa sebelum diproduksi di Desa Cikadu, ia telah merintis usaha keripik tempenya di Jakarta. Di sana ia memasarkan produk olahan tempenya dengan berjualan keliling. Tiga bulan terakhir ia memutuskan untuk fokus membuka usaha bersama istrinya di kampung halaman. Mereka membeli bahan baku tempe mentah, kemudian mengolahnya menjadi keripik tempe. Dalam sehari mereka dapat memproduksi 50 bungkus keripik yang dijual seharga Rp 2.500,-. Selain itu ia memasarkannya pula dengan menjual produknya   di warung-warung, warung bakso, warung soto, dan aneka kedai makanan yang banyak terdapat di sepanjang jalan raya Desa Cikadu hingga ke desa- desa tetangga.

Produk olahan tempe milik Diyatno ini juga dihadirkan dalam Pameran Seni Budaya di Kecamatan Watukumpul dalam rangka HUT Kabupaten Pemalang yang ke 443 tahun, sebagai produk unggulan khas Desa Cikadu. Dalam acara yang berlangsung Senin, 29 Januari 2018 tersebut, stand pameran Desa Cikadu  dikunjungi oleh Ibu Bupati Pemalang, Irna Setiawati  SE didampingi oleh Camat Watukumpul Umroni,SH.MH bersama Muspika dan rombongan PKK dari Kabupaten Pemalang. Ibu Bupati pun mengacungkan 2 jempol.

Dalam kesempatan pertemuan bersama mahasiswa KKN sore itu dirumah produksi “Tempe Kirana” suasana terjalin penuh keakraban. Dengan pemikiran Pandu mahasiswa jurusan Agribisnis, Ia mengarahkan langkah kedepan untuk memproduksi banyak dengan menggunakan mesin pengiris tempe biar tipis rata dan dalam waktu cepat. Serta menggunakan mesin pengering minyak goreng supaya tempenya kering tidak berminyak yang bisa mengakibatkan cepat bau tengik. Maka dari itu perlu dibuat Alur Rencana Target Mingguan, Bulanan dan Tahunan mengenai kebutuhan produksi apa yang Prioritas dan mendesak, Prioritas tapi tidak mendesak, tidak prioritas tapi mendesak, serta tidak prioritas dan tidak mendesak namun berdampak sekali. Juga mengusahakan bagaimana proses produksi kripik tempe tersebut, yang walaupun dengan modal sedikit, tenaga sedikit, waktu juga sedikit tapi bisa berproduksi melimpah dengan kualitas tetap terjamin,tetap berjalan terus maju, sehingga kelak modal dan keuntungannya bisa signifikan.

Kemudian oleh Gojali yang mengambil jurusan Ilimu dan Teknologi Pangan, Ia melanjutkan mengenai peningkatan nilai jual, yaitu dengan berbagai macam inovasi dan kreasi seperti menggunakan kemasan yang lebih rapi, ramah lingkungan, penggunaan aneka rasa original,manis, gurih dan pedas. Selain itu bisa juga dengan ditambah bonus gambar atau mainan didalamnya untuk khusus konsumen anak-anak, bungkus tas yang menarik untuk remaja maupun ibu-ibu untuk bonus pembelian dengan jumlah yang banyak. Diharapkan untuk membuat ijin P-IRT DinKes, Hak Paten Produk dan Logo, sertifikat Halal dari MUI, serta pencantuman masa kadaluarsa. Untuk kemudian bisa dipasarkan lewat jasa marketing On Line, Fraincise, SuperMart  supaya bisa berkembang dan maju hingga masuk ke seluruh Indonesia,sehingga mengharumkan nama baik Desa Cikadu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *